Berikut adalah Teknik Penulisan Story Telling Yang Benar

Teknik Penulisan Story Telling Yang Benar

Storytelling adalah seni atau proses menceritakan cerita. Ini melibatkan penggunaan kata-kata, gambar, suara, atau elemen-elemen visual lainnya untuk menyampaikan narasi atau cerita kepada khalayak. Tujuan storytelling bisa bermacam-macam, termasuk menghibur, mendidik, meyakinkan, atau memotivasi. sebelum lebih jauh kita membahas mengenai Teknik Penulisan Story Telling Yang Benar, sebaiknya baca lebih detail pembuka berikut ini.

Cerita dalam konteks storytelling tidak hanya terbatas pada fiksi atau dongeng; ini juga mencakup narasi dalam berbagai bentuk, seperti pengalaman pribadi, sejarah, atau penyampaian informasi. Dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, pemasaran, pendidikan, dan seni, storytelling dianggap sebagai alat yang kuat untuk membuat koneksi emosional, mempertahankan perhatian, dan menyampaikan pesan dengan lebih efektif kepada audiens. Dengan merangkai informasi dalam format naratif, storytelling membantu mendekatkan penyaji dengan pendengar atau pembaca, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dan berkesan.

Storytelling memiliki berbagai alasan penting dalam berbagai konteks, baik itu dalam bidang bisnis, pendidikan, hiburan, maupun kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa alasan mengapa storytelling dianggap penting:

  1. Menginspirasi dan Membangkitkan Empati: Cerita dapat menginspirasi dan menciptakan hubungan emosional antara pembuat cerita dan audiensnya. Melalui pengalaman karakter dalam cerita, audiens dapat merasakan empati, menjadikan mereka lebih terhubung dengan materi yang disampaikan.
  2. Memudahkan Pemahaman: Storytelling membantu kompleksitas informasi untuk dipahami dengan lebih baik. Dengan memasukkan fakta ke dalam narasi, audiens dapat lebih mudah mengenali pola, memahami konsep, dan meresapi informasi secara lebih efektif.
  3. Memotivasi dan Membujuk: Cerita memiliki kekuatan untuk memotivasi orang untuk bertindak atau mengubah perspektif mereka. Dalam konteks bisnis, storytelling dapat menjadi alat persuasif yang kuat untuk memengaruhi keputusan atau tindakan orang.
  4. Membangun Identitas dan Budaya: Melalui storytelling, organisasi dan komunitas dapat membentuk identitas, misi, dan nilai-nilai bersama. Cerita-cerita tentang asal-usul, pencapaian, atau perjuangan dapat membentuk budaya dan nilai-nilai suatu kelompok.
  5. Memori yang Lebih Baik: Manusia cenderung mengingat cerita lebih baik daripada sekadar daftar fakta atau informasi. Oleh karena itu, storytelling dapat meningkatkan retensi dan pemahaman informasi yang disampaikan.
  6. Membangkitkan Kreativitas: Cerita dapat memotivasi orang untuk berpikir secara kreatif dan menginspirasi inovasi. Menceritakan pengalaman atau ide dapat membuka pintu bagi pemikiran kreatif dan solusi baru.
  7. Menjaga Perhatian: Dalam dunia yang penuh dengan informasi, storytelling dapat membantu mempertahankan perhatian audiens. Cerita yang menarik dapat membuat orang tetap terlibat dan terhubung.
  8. Menyampaikan Nilai: Storytelling adalah cara yang efektif untuk menyampaikan nilai dan moral. Cerita dapat memberikan pelajaran dan mengajarkan konsep-konsep moral tanpa bersikap menggurui.
  9. Menghadirkan Pengalaman: Melalui cerita, pembuat cerita dapat membawa pendengar atau pembaca ke dunia baru. Ini menciptakan pengalaman yang mendalam dan membuat cerita lebih melekat dalam ingatan.

Dengan demikian, storytelling bukan hanya sekadar cara untuk bercerita, tetapi juga merupakan alat komunikasi dan pengaruh yang sangat efektif dalam berbagai aspek kehidupan dan pekerjaan.

Berikut adalah Teknik Penulisan Story Telling Yang Benar

Berikut adalah tabel perbandingan antara teknik storytelling yang efektif (benar) dan teknik storytelling yang kurang efektif (salah) dalam bahasa Indonesia:

AspekTeknik Storytelling yang BenarTeknik Storytelling yang Salah
Pengembangan PlotProgresi yang terencana dan logisPoin plot yang tidak terpecahkan atau tidak konsisten
Penggambaran KarakterKarakter menunjukkan pertumbuhan dan kompleksitasKarakter satu dimensi tanpa pengembangan
Penyelesaian KonflikMemuaskan dan terkait dengan konflik utamaPenyelesaian yang tiba-tiba atau tidak masuk akal
DialogAlami, melayani perkembangan plot dan karakterDialog yang dipaksakan, tidak relevan, atau terlalu ekspositori
Deskripsi PengaturanEvokatif, meningkatkan atmosfer ceritaDetail berlebih atau tidak relevan tentang pengaturan
PacingKecepatan bervariasi untuk menjaga keterlibatanKecepatan monoton yang gagal mempertahankan minat
Point of View (POV)Konsisten dan meningkatkan narasiPerubahan POV yang tidak konsisten yang membingungkan pembaca
Tegangan dan KeteganganDibangun dengan baik, menjaga pembaca terlibatKetegangan yang dapat diprediksi atau tidak berhasil dijalankan
PramuaraPetunjuk halus yang meningkatkan antisipasiPramuara yang terlalu kentara atau menyesatkan
Motivasi KarakterDidefinisikan dengan jelas dan masuk akalTindakan tanpa motivasi atau tujuan karakter yang tidak jelas
Flashback/FlashforwardTerintegrasi dengan lancar untuk meningkatkan storytellingLoncatan waktu yang mengganggu atau membingungkan
Eksplorasi TemaEksplorasi tema dengan pemikiranPenanganan tema yang terlalu terbuka atau merasa mendidik
Konsistensi ToneMenjaga nada yang konsisten sepanjangPerubahan nada yang terasa tiba-tiba atau tidak konsisten
OrisinalitasMenawarkan sudut pandang segar atau pendekatan unikCerita yang turun-temurun atau klise
Kepuasan EndingMenyelesaikan garis besar cerita dan memuaskanAkhir yang ambigu atau tiba-tiba yang meninggalkan pertanyaan
Keterlibatan AudiensTerlibat dan bersesuaian dengan audiens targetGagal terhubung dengan pembaca atau penonton yang dimaksudkan

Tabel ini memberikan gambaran umum, dan perlu diingat bahwa storytelling bersifat subyektif, dan apa yang berhasil dalam satu konteks mungkin tidak berhasil dalam konteks lain. Selain itu, beberapa pembuat cerita dengan sengaja melanggar aturan konvensional untuk efek artistik.

Bagikan jika bermanfaat..

Facebook
WhatsApp
Telegram

Artikel Yang Anda Suka

Artikel Terkait